Semuanya berawal dari BODY (Biology Open Day), aku pernah merasakan indahnya dunia.
Inilah awal kisahku sejak memulai dunia baru di kota Makassar. Awalnya waktu melapor, rasa kagum itu sudah ada. Kebencian itu muncul saat engkau menghukumku mesti jalan bebek dari gerbang sampai parkiran. Aku yang datang ontime (kayaknya, soalnya belum jam 7) malah dicegat di depan gerbang MIPA.
“Kenapa terlambat?” ujarnya dengan suara lantang.
“Perasaan belumpi jam 7 kak”, jawabku dengan sedikit takut.
“Jongkok, jalan bebekko disitu sampe parkiran!!!” tegasnya.
Dengan segala macam perlengkapan ospek yang menempel di pakaianku yang membuatku tidak nyaman aku mulai menjalankan perintahnya. Dibentak, digertak dan yang lebih parahnya lagi Aku disuruh jalan bebek mulai dari pintu gerbang parkiran sampai parkiran yang jaraknya lumayan jauh. Bayangkan, saat itu aku memakai sepatu pentopel dan dalam keadaan halangan (baca: menstruasi) hari pertama. Engkau dihatiku yang awalnya memiliki 10 bintang, seketika bintang itu Qhancurkan satu per satu sampai pada akhirnya yang ada hanya rasa benci. Andai saja engkau tahu, waktu itu folikel-folikel di dalam rahimku sedang meluruh dan sakitnya minta ampun, ditambah lagi hukuman jalan bebek yang menambah sempurnanya penderitaanku di awal ospek fakultas angkatanku.
Semenjak kejadian itu, tak ada lagi rasa kagum untukmu. Bahkan selepas ospek hari itu, setiba di rumah namamu ku sebut-sebut dengan mengikutkan kata Brengsek di belakangnya. Argghh…brengsek!!! Setelah aktivitas kuliah mulai berjalan pun aku masih menyimpan benci yang mendalam, aku selalu buang muka setiap kali melihat muka “Sok cakepmu” (hehehe…itu kata seorang temanku yang bernasib sama denganku).
Nah sampai pada akhirnya, persiapan sebuah acara besar HIMABIO pun dimulai. Namanya BODY (Biology Open Day). Aku yang masih terbilang lugu karena masih Maba ingin mencoba berpartisipasi dalam acara besar ini. Kebetulan namaku tercatat sebagai salah satu panitia di SK, jadi mau tidak mau harus turun tangan juga.
Singkat cerita sehari sebelum pelaksanaan BODY, aku yang baru tiba di Makassar sehabis pulkam tidak tahu arah pulang. Waktu itu mobil yang ku tumpangi mengantar hanya sampai di sentral. Entah siapa yang mesti di hubungi untuk sampai di kost. Pulsa habis, bisanya cuma CM (Call me). Tidak tanggung-tanggung, aku menghubungi melayangkan CM kepada k’chures dan k’alga. Akhirnya dia menelponku, ku ceritakan tentang diriku yang tidak tahu arah pulang ke kost (maklum masih maba), dia menanyakan keberadaanku, ku jelaskan meski tidak jelas, telepon dimatikan. Aku berharap dia benar-benar bersedia menjemputku dan beberapa menit kemudian dia datang dengan pakaian lusuh dan bau. Hmmm,,,biarlah daripada tidak pulang.
Akhirnya tiba dikost. Sorenya tepatnya tanggal 29 November 2009 sekitar jam 4 sore dia datang kembali masih dengan keadaan lusuh, bau, blepotan karena cat dekorasi panggung. Awalnya diam, sunyi. Aku duduk bersebelahan dengannya, tiba-tiba ia mengeluarkan kalimat yang tidak pernah ku duga sebelumnya.
“Engka, mauki’ jadi pacarku?”
Kalimat singkat tanpa embel-embel tapi maknanya dalam. Suasana seketika berubah menjadi aneh, jantungku berdetak kencang. Dipikiranku sempat terlintas, “Dasar senior aneh, ternyata dari dulu dia menyimpan perasaan itu padaku. Bahkan sebelum sebelum hukuman jalan bebek itu dijatuhkan padaku”.
Tanpa pikir panjang, aku menjawab, Iye’. Jawaban lugu dari seorang junior. Entah setan apa yang merasuk di otakku sampai-sampai aku menerimanya. Ah, sepertinya dia menjebakku. Istilah kerennya “Dikandang passa”, masa main datang di kostan. Tapi biarlah, aku pikir kita jalani saja dulu….
Itulah kisahku yang sampai sekarang aku belum tahu apakah aku dulu menerimanya atas dasar apa. Karena kasihan, gak enak karena dia senior atau aku betul-betul menyayanginya.
14 juni 2011 01.02 WITA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar